Ketika Kemoterapi Menimbulkan Efek Samping, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?
Penulis :
Kemoterapi merupakan salah satu pengobatan yang digunakan untuk menangani berbagai jenis kanker. Namun, ada satu hal yang sering membuat pasien dan keluarga merasa khawatir: efek samping kemoterapi.
Mual, muntah, tubuh terasa sangat lelah, nafsu makan menurun, rambut rontok, sariawan, perubahan rasa makanan, diare, sembelit, hingga penurunan jumlah sel darah dapat terjadi selama pengobatan. Jenis dan tingkat keparahannya tidak selalu sama antara satu pasien dengan pasien lainnya.
Masalahnya, masih ada anggapan bahwa pasien sebaiknya “tahan saja” karena efek samping merupakan bagian yang tidak bisa dihindari dari kemoterapi.
Benarkah demikian?
Tidak sesederhana itu.
Sebagian efek samping memang dapat muncul sebagai akibat kemoterapi yang juga memengaruhi sel sehat yang tumbuh cepat. Namun, banyak efek samping dapat dicegah, dikurangi, atau ditangani dengan pendekatan medis yang tepat. Karena itu, pasien tidak seharusnya merasa harus menanggung semua keluhan sendirian.
Kemoterapi Bekerja, Tetapi Tubuh Juga Bisa Ikut Terdampak
Kemoterapi bekerja dengan menggunakan obat untuk menghentikan pertumbuhan atau membunuh sel kanker. Beberapa obat kemoterapi bekerja pada sel yang tumbuh dan membelah dengan cepat.
Masalahnya, tubuh juga memiliki sel sehat yang tumbuh cepat, misalnya sel di sumsum tulang, folikel rambut, serta lapisan mulut dan saluran pencernaan.
Itulah salah satu alasan mengapa pasien dapat mengalami rambut rontok, sariawan, perubahan jumlah sel darah, mual, muntah, atau gangguan pencernaan. Jenis efek samping bergantung pada obat yang digunakan, dosis, kombinasi terapi, kondisi tubuh, serta faktor lainnya.
Jadi, efek samping bukan berarti obat “salah bekerja”.
Namun, efek samping juga bukan sesuatu yang harus dibiarkan begitu saja.
Mitos yang Perlu Diluruskan: Makin Berat Efek Samping, Makin Ampuh?
Ini salah satu anggapan yang cukup sering terdengar di sekitar pasien kanker.
Ada yang mengatakan bahwa jika seseorang muntah hebat, sangat lemas, atau mengalami banyak efek samping setelah kemoterapi, berarti obatnya sedang bekerja dengan sangat kuat.
Anggapan tersebut tidak dapat dijadikan patokan.
Tingkat efek samping bukan ukuran sederhana untuk menentukan apakah kemoterapi berhasil membunuh kanker atau tidak. Dua pasien yang mendapatkan jenis kemoterapi yang sama dapat mengalami efek samping yang berbeda. Bahkan, ada pasien yang hanya mengalami keluhan ringan.
Efektivitas pengobatan dinilai menggunakan evaluasi medis yang sesuai, bukan dari seberapa berat pasien merasa sakit.
Karena itu, pasien tidak perlu merasa bangga karena mampu menahan efek samping yang berat. Sebaliknya, melaporkan keluhan kepada dokter justru merupakan bagian penting dari perawatan.
Saat Tubuh Mulai “Protes”, Jangan Langsung Panik
Tidak semua efek samping membutuhkan tindakan darurat.
Namun, hampir semua keluhan yang mengganggu sebaiknya diketahui oleh tim medis yang menangani pasien.
Beberapa efek samping yang dapat muncul selama kemoterapi antara lain:
- Mual dan muntah.
- Kelelahan yang berat.
- Nafsu makan menurun.
- Rambut rontok.
- Sariawan atau luka pada mulut.
- Perubahan rasa makanan.
- Diare atau sembelit.
- Kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki pada obat tertentu.
- Penurunan jumlah sel darah.
- Mudah mengalami memar atau perdarahan.
- Peningkatan risiko infeksi.
Tidak semua pasien mengalami seluruh keluhan tersebut. Bahkan, tingkat keparahannya dapat berbeda secara signifikan.
Mual dan Muntah: Jangan Tunggu Sampai Tidak Bisa Minum
Mual merupakan salah satu keluhan yang paling sering dikhawatirkan pasien kemoterapi.
Kabar baiknya, obat untuk mencegah dan mengendalikan mual serta muntah tersedia dan dapat diberikan sesuai kebutuhan pasien. Bahkan, obat antimual sering diberikan sebelum kemoterapi pada pasien yang memiliki risiko mengalami keluhan tersebut.
Jika mual muncul, pasien dapat mendiskusikan pola makan dan minum dengan tim medis. Mengonsumsi makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering dapat menjadi salah satu strategi yang digunakan, tergantung kondisi pasien.
Cairan juga perlu diperhatikan.
Muntah berulang dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit. Jika pasien tidak mampu mempertahankan asupan cairan, segera hubungi tim medis karena dehidrasi dapat menjadi masalah serius.
Lemas Bukan Berarti Harus Terus Berbaring
Kelelahan akibat kanker atau pengobatan dapat terasa sangat berbeda dari lelah biasa.
Pada sebagian pasien, tidur atau beristirahat saja tidak selalu membuat tubuh kembali bugar. Kelelahan juga dapat dipengaruhi anemia, kurang makan, dehidrasi, gangguan tidur, infeksi, nyeri, maupun pengobatan itu sendiri.
Karena penyebabnya bisa bermacam-macam, jangan langsung menyimpulkan bahwa rasa lemas adalah “efek kemoterapi biasa”.
Jika kelelahan membuat pasien tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari, sampaikan kepada dokter.
Tim medis dapat mengevaluasi kemungkinan penyebabnya dan menentukan langkah yang sesuai.
Nafsu Makan Turun? Jangan Memaksa, tetapi Jangan Diabaikan
Perubahan nafsu makan, mual, perubahan rasa makanan, mulut kering, luka pada mulut, hingga gangguan menelan dapat membuat pasien kesulitan memenuhi kebutuhan nutrisi selama kemoterapi.
Memaksa pasien makan dalam jumlah besar ketika sedang mual bukan selalu solusi.
Yang lebih penting adalah mencari tahu mengapa pasien tidak bisa makan.
Apakah karena mual?
Apakah makanan terasa pahit?
Apakah mulut terasa sakit?
Apakah sulit menelan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu tim medis atau ahli gizi menentukan strategi nutrisi yang lebih sesuai.
Jika berat badan terus menurun atau pasien semakin sulit makan dan minum, jangan menunggu sampai kondisi menjadi berat untuk berkonsultasi.
Rambut Rontok Memang Mengganggu, tetapi Bukan Satu-satunya Masalah
Rambut rontok sering menjadi efek samping yang paling terlihat.
Hal ini dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kondisi emosional pasien. Namun, tingkat kerontokan rambut bergantung pada jenis obat kemoterapi yang digunakan.
Tidak semua kemoterapi menyebabkan rambut rontok dengan tingkat yang sama.
Pasien sebaiknya mendapatkan informasi sejak awal mengenai kemungkinan efek samping dari obat yang akan diberikan. Dengan begitu, perubahan yang terjadi tidak datang sebagai kejutan.
Dan satu hal penting: rambut rontok tidak bisa dijadikan ukuran keberhasilan kemoterapi.
Ada Keluhan yang Tidak Boleh Ditunggu
Inilah bagian yang jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui efek samping umum.
Kemoterapi pada jenis dan kondisi tertentu dapat menurunkan jumlah sel darah putih, termasuk neutrofil, yang berperan dalam melawan infeksi. Ketika jumlahnya rendah, risiko infeksi dapat meningkat.
Karena itu, pasien perlu mengetahui kapan harus segera menghubungi tim medis.
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah demam. Suhu sekitar 38°C atau lebih sering digunakan sebagai batas yang perlu mendapat perhatian pada pasien kanker, tetapi pasien harus mengikuti batas suhu dan instruksi khusus yang diberikan oleh tim medisnya.
Selain demam, segera hubungi tim medis jika muncul kondisi seperti:
- Menggigil hebat.
- Sesak atau kesulitan bernapas.
- Perdarahan yang tidak biasa.
- Memar tanpa penyebab jelas.
- Muntah atau diare yang terus berlangsung.
- Darah dalam urine atau tinja.
- Luka atau kemerahan pada area kateter.
- Nyeri yang tidak biasa atau semakin berat.
- Reaksi alergi seperti pembengkakan pada mulut atau tenggorokan.
Dalam kondisi seperti sesak berat, kebingungan baru, nyeri dada, atau tanda kondisi gawat lainnya, pasien dapat membutuhkan pertolongan darurat.
Jangan Asal Minum Obat untuk Mengatasi Efek Samping
Ini juga sering menjadi masalah.
Ketika pasien mengalami demam, nyeri, mual, atau diare, keluarga mungkin langsung memberikan obat yang tersedia di rumah.
Padahal, pada pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi, keputusan penggunaan obat sebaiknya dibicarakan dengan tim medis.
Contohnya, obat penurun demam dapat menurunkan suhu tubuh dan berpotensi menyamarkan tanda infeksi. Karena itu, NCI menyarankan pasien berkonsultasi dengan tim medis sebelum menggunakan obat tertentu untuk demam.
Begitu pula dengan vitamin, suplemen herbal, obat tradisional, atau obat bebas.
“Alami” tidak otomatis berarti aman untuk semua pasien yang sedang menjalani kemoterapi.
Interaksi dengan obat kanker merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Catat Efek Samping, Jangan Hanya Mengandalkan Ingatan
Cara sederhana yang sering membantu adalah membuat catatan efek samping.
Tuliskan:
- Hari dan waktu munculnya keluhan.
- Jenis keluhan.
- Suhu tubuh jika mengalami demam.
- Frekuensi muntah atau diare.
- Jumlah makanan dan cairan yang dapat dikonsumsi.
- Obat yang sudah diminum.
- Apakah keluhan semakin berat atau mulai membaik.
Catatan ini dapat membantu dokter memahami pola keluhan dan menentukan langkah berikutnya.
Pasien juga sebaiknya mengetahui nomor kontak tim medis yang dapat dihubungi ketika muncul keluhan di luar jam kunjungan.
Haruskah Kemoterapi Dihentikan Jika Efek Samping Berat?
Ini pertanyaan yang sering muncul.
Jawabannya tidak bisa ditentukan hanya dari satu gejala.
Dokter dapat mempertimbangkan berbagai faktor, seperti jenis kanker, tujuan pengobatan, jenis obat, dosis, kondisi pasien, hasil pemeriksaan darah, serta tingkat keparahan efek samping.
Dalam situasi tertentu, dokter mungkin melakukan penyesuaian dosis, memberikan obat untuk mengatasi efek samping, mengubah jadwal, atau mengambil keputusan lain sesuai kondisi.
Pasien sebaiknya tidak menghentikan atau mengubah jadwal kemoterapi sendiri.
Keputusan tersebut harus dibicarakan dengan dokter yang menangani.
Untuk memahami lebih jauh mengenai pertimbangan sebelum menjalani terapi, pembaca juga dapat diarahkan ke artikel internal “Sebelum Menjalani Kemoterapi, Kenali Manfaat, Risiko, dan Efek Sampingnya” serta “Kemoterapi Tidak Selalu Cocok untuk Semua Pasien Kanker, Apa yang Perlu Dipertimbangkan?”
Perawatan Kanker Bukan Hanya Tentang Obat Antikanker
Perjalanan pengobatan kanker bukan hanya mengenai bagaimana melawan sel kanker.
Pasien juga membutuhkan pengelolaan gejala, dukungan nutrisi, pemantauan kondisi tubuh, dukungan psikologis, dan komunikasi yang baik dengan tim medis.
Pendekatan terhadap efek samping juga harus bersifat individual.
Keluhan yang dianggap ringan oleh satu orang bisa sangat mengganggu bagi orang lain. Karena itu, pasien tidak perlu membandingkan dirinya dengan pasien kanker lainnya.
“Pasien lain kuat, kenapa saya tidak?”
Pertanyaan seperti ini justru dapat membuat pasien merasa bersalah.
Setiap tubuh memiliki respons yang berbeda terhadap pengobatan.
Kapan Sebaiknya Konsultasi?
Jika efek samping kemoterapi mulai mengganggu makan, minum, tidur, aktivitas, atau kualitas hidup, jangan menunggu sampai kondisinya semakin berat.
Konsultasikan keluhan kepada dokter agar dapat dinilai apakah keluhan tersebut merupakan efek samping yang masih dapat ditangani, tanda komplikasi, atau membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Bagi pasien dan keluarga yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai kondisi kanker dan pilihan pendampingan yang sesuai, konsultasi medis dapat menjadi langkah awal untuk memahami kondisi secara lebih jelas.
CMI Hospital dapat menjadi salah satu tempat untuk mendiskusikan keluhan kesehatan dan mendapatkan evaluasi sesuai kondisi masing-masing pasien. Sampaikan obat kemoterapi yang digunakan, keluhan yang muncul, kapan keluhan dimulai, serta perubahan kondisi yang dirasakan.
Jangan menunggu sampai tubuh benar-benar tidak mampu bertahan.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul Setelah Kemoterapi
Kalau tidak muntah setelah kemoterapi, apakah obatnya tidak bekerja?
Tidak. Ada atau tidaknya muntah tidak dapat digunakan untuk menilai keberhasilan kemoterapi. Respons terhadap obat berbeda pada setiap pasien.
Apakah pasien harus menahan efek samping agar pengobatan berhasil?
Tidak. Efek samping perlu dilaporkan agar dapat dinilai dan ditangani. Menahan keluhan tanpa memberi tahu tim medis bukan ukuran keberhasilan pengobatan.
Bolehkah minum obat herbal saat kemoterapi?
Jangan langsung mengonsumsi obat herbal atau suplemen tanpa mendiskusikannya dengan dokter. Produk tertentu dapat berinteraksi dengan obat yang sedang digunakan.
Mengapa badan masih lemas beberapa hari setelah kemoterapi?
Kelelahan dapat berkaitan dengan kemoterapi, anemia, kurang nutrisi, dehidrasi, gangguan tidur, infeksi, nyeri, atau faktor lain. Jika lemas berat atau menetap, sebaiknya diperiksa.
Apakah semua efek samping akan hilang setelah kemoterapi selesai?
Tidak selalu. Sebagian efek samping bersifat sementara, tetapi beberapa efek dapat bertahan lebih lama atau muncul setelah pengobatan tertentu. Jenis obat yang digunakan sangat berpengaruh.
Apa yang paling penting dilakukan keluarga ketika pasien mengalami efek samping?
Jangan hanya menyuruh pasien “kuat”. Bantu mencatat gejala, memastikan pasien mendapatkan asupan sesuai anjuran, membantu menghubungi tim medis ketika ada tanda bahaya, dan menemani pasien menjalani proses pengobatan.
Efek Samping Bukan Pertandingan untuk Ditahan
Kemoterapi memang dapat menimbulkan berbagai efek samping, tetapi pasien tidak harus menghadapinya sendirian.
Mual, muntah, kelelahan, gangguan makan, perubahan darah, dan keluhan lainnya perlu dinilai berdasarkan kondisi masing-masing pasien. Beberapa efek samping dapat dicegah atau dikurangi dengan penanganan yang tepat.
Yang paling penting adalah jangan menganggap efek samping berat sebagai bukti bahwa kemoterapi pasti lebih efektif, dan jangan pula menghentikan pengobatan sendiri karena takut terhadap efek samping.
Kenali tubuh, catat perubahan yang terjadi, dan komunikasikan kepada tim medis.
Jika Anda atau keluarga sedang menjalani kemoterapi dan mengalami efek samping yang membuat khawatir, konsultasikan kondisi tersebut agar dapat dinilai secara medis dan ditentukan langkah yang sesuai.